Diskursus Hard-System dan Soft-System

Istilah “hard system” versus “soft system” diperkenalkan oleh Peter Checkland dengan munculnya artikel mengenai Soft System Methodology pada tahun 1981. Sebelum tahun 1970, system thinking masih banyak didominasi oleh positivism dan fungsionalism. Era 1970 sampai dengan era 1980 merupakan saat dimana system thinking tradisional dikritisi atas sudut pandangnya.  Kritikan ditujukan kepada sudut pandang tradisional karena dipandang tidak dapat menyelesaikan permasalahan ill-structured (tidak terstruktur) dan permasalahan strategis. Selain itu, ia dipandang menghalangi perkembangan disiplin ini.

Pendekatan hard system memiliki asumsi bahwa permasalahan dunia bersifat sistemik dan terdapat kesalinghubungan antar segala hal (wholism). Yang menjadi permasalahan adalah asumsi positivistik yang terkandung di dalamnya, yang tidak memasukkan pertimbangan “realitas berbeda” yang dilihat oleh individu-induvidu yang berbeda dalam sistem tersebut. Sudut pandang pengamat (observer) dianggap sebagai kesalinghubungan yang dilihat bersama. Padahal masing-masing pengamat akan melihat realitas secara berbeda. Dalam istilah Bawden, sudut pandang hard system ini lebih bersifat epi-systemic berlawanan dengan pendekatan soft yang bersifat onto-systemic.

Bawden (1991) menerapkan system thinking and practice di pertanian dan mengkategorikan studi sistem ke dalam dua kategori, yaitu (1) Penelitian/studi onto-systemic merupakan studi berbagai hal sebagai sistem sebagaimana adanya di dunia ini. Sedangkan (2) penelitian/studi episistemic menganggap sistem sebagai perspesi individuil manusia, yaitu sebagai proses mental daripada obyek-obyek dari suatu proses yang sebenarnya.

Bawden, Richard J. “Systems thinking and practice in agriculture.” Journal of Dairy Science 74.7 (1991): 2362-2373.

 

Advertisements

Kontribusi System pada OR/MS/IE

OR/MS/IE mengalami perubahan perspektif tatkala gerakan sistem melanda. Banyak akademisi OR/MS di Inggris mengatakan bahwa OR di Amerika terlalu berkecimpung dalam “penjara” model matematis dan statistika sehingga tidak mampu beradaptasi terhadap systems thinking. Namun apabila dilihat bidang OR/MS/IE yang terstruktur dan dimotori oleh para akademisi, maka dapat dikatakan bahwa di Amerika terdapat bidang OR dan MS yang meskipun digunakan secara sinonim, memiliki lingkup kajian yang berbeda. OR mempelajari lingkup kuantitatif, MS memasukkan sisi matematis OR sekaligus memasukkan teori sistem dan behavioral science. Sedangkan Teknik Industri (IE) pada desain, peningkatan dan instalasi  :

Industrial Engineering is concerned with the design, improvement, and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design to specify, predict, and evaluate the results to be obtained from such system

Sebenarnya permasalahan OR/MS/IE tidak lebih pada permasalahan terminologis kata-kata yang menerangkan tentang suatu bidang kajian/disiplin yang aplikatif pada industri dan perusahaan.

Masuknya systems thinking sejak pertengahan 1950 telah membawa perubahan pada sudut pandang OR/MS/IE. Tidak mengherankan apabila jurusan-jurusan Teknik Industri di Amerika mengakomodasikan system thinking dengan merubah nama menjadi Teknik Industri dan Sistem maupun Teknik Sistem dan Industri dengan berbagai variasi penamaan.

Systems thinking pertamakali mempengaruhi OR/MS/IE sejak sekitar tahun 1950 pertengahan hingga sekitar tahun 1970. Hal ini dapat dibaca pada posting mengenai systems thinking. Karena aplikasi system dengan OR/MS/IE pada suatu sistem produksi yang dapat distrukturkan, maka pendekatan system pada teknik industri bersifat lebih fungsionalistik.

 

Teknik Industri : Sebuah Kisah Menapaki Waktu (Bagian III)

Bagian ini merupakan lanjutan dari Bagian I dan Bagian II dai sejarah perkembangan Teknik Industri untuk mendefinisikan apa sebenarnya Teknik Industri beserta batasan-batasan dan lingkup kajian.

Perkembangan dari Manajemen Saintifik dan OR setelah Perang Dunia II tidak lepas dari semangat membangun ekonomi dan industri paska stagnasi ekonomi akibat PD II. Perkembangan selanjutnya dari Manajemen Saintifik lebih diwarnai oleh pergulatan ekonomi-industri di Amerika dan Inggris sebagai motor revolusi industri.

Pada bagian ini, pembaca barangkali sudah mulai memiliki perspektif tentang apa itu Teknik Industri. Apabila pada awalnya dunia manufaktur Inggris dicerahkan oleh Charles Babbage dan kemudian dunia manufaktur Amerika Serikat dicerahkan oleh Taylor dan rekan-rekan. Kemudian Operations Research memberikan kontribusi berupa abstraksi normatif atas permasalahan dalam dunia industri, maka perkembangan selanjutnya adalah kondisi ekonomi-industri yang dipengaruhi situasi setelah Perang Dunia II.

Setelah Perang Dunia II, terdapat “keterpisahan” perkembangan OR antara Inggris dan Amerika.

Perkembangan OR di Inggris dimotori oleh (1) asosiasi riset di dalam Department of Science and Research) dan (2) kelompok OR di perusahaan. Hal ini berbeda dengan OR di Amerik yang dimotori oleh scientist yang berada di sekolah bisnis dan manajemen. Perbedaan lain diantara keduanya adalah, jenis penelitian yang dilakukan. Di Inggris journal OR pertama adalah Operational Research Quarterly pada tahun 1950. Jurnal ini diterbitkan oleh Operational Research Society yang berkembang dari kelompok-kelompok kajian tentang OR yang terbentuk tahun 1948. Pada tahun 1950, organisasi didominasi oleh praktisi OR dalam organisasi-organisasi daripada akademisi yang memiliki peran untuk mengajar dan melakukan penelitian pada bidang OR. Di Amerika sendiri berdirilah The Operations Research Society of America pada tahun 1952 dengan jurnal ilmiahnya Operations Research. Volume pertama jurnal tersebut memuat banyak aplikasi metode statistika dan matematika,namun volume selanjutya banyak sekali penekanan pada penekanan teoretis.

Pada tahun 1953 di Amerika berdiri The Institute of Management Sciences dengan maksud untuk mengidentifikasikan, memperluas dan menyatukan pengetahuan saintifik yang berkontribusi pada pemahaman dan praktek manajemen. Institut tersebut mempublikasikan sebuah jurnal yaitu Management Science untuk mencapai desimenasi pengetahuan dan memotivasi riset. Kebingungan batasan antara management science dan operational research ditunjukkan oleh Weinwurm dan ia mengusulkan konsepsinya bahwa management science lebih luas daripada operations research dan operations research diberikan tempat di management science. Namun demikian kebingungan tetap terjadi dan istilah OR dan MS sering digunakan bergantian sebagai OR/MS. Luasnya cakupan MS dibandingkan OR ditunjukkan pada dimasukkanya paper Management Science mengenai teori sistem dan behavioral science. Management Science juga memasukkan paper penting mengenai aspek matematis OR.

Lalu, dimanakah posisi bidang teknik industri ? Di Amerika Serikat, Teknik Industri muncul sejak setelah F.W. Taylor melakukan gerakan Manajemen Saintifik. Jurusan/Departemen Teknik Industri pertama di Amerika Serikat berdiri pada tahun 1909. Jurusan Teknik Industri banyak didirikan sejak saat itu di Amerika Serikat. Berbeda dengan perkembangan OR di Inggris yang lebih banyak dimotori oleh para praktisi, maka perkembangan OR/MS di Amerika dimotori oleh akademisi yang menjadi konsultan di perusahaan-perusahaan. Hal inilah yang menjadikan bidang kajian OR/MS/IE lebih terstruktur dibandingkan di Inggris.

Tentunya perkembangan OR/MS/IE di seluruh dunia turut dipengaruhi perkembangan selanjutnya pada era 1950-selanjutnya dengan munculnya systems thinking sebagai transformator OR/MS/IE sehingga memiliki sudut pandang sistem dalam melihat permasalahan industri.

Teknik Industri : Sebuah Kisah Menapaki Waktu (Bagian II)

Posting ini merupakan bagian kedua dari posting terdahulu mengenai sejarah Teknik Industri. Sejarah industri diperlukan untuk memahami perkembangan metode dan tools yang berkembang sejak awal hingga saat ini sehingga untuk menentukan solusi bagi permasalahan riil diperlukan studi mengenai metode dan tools yang telah diperkenalkan, dimana metode dan tools tersebut dan diaplikasikan serta menentukan perlu atau tidak dikembangkan metode dan tools baru ataukah penggabungan dari metode yang telah ada.

Sebagaimana sudah disebutkan dalam posting bertajuk Teknik Industri : Sebuah Kisah Menapaki Waktu (Bagian I), bahwa Teknik Industri berawal dari Revolusi Industri yang terjadi di Inggris yang kemudian berkembang di beberapa belahan dunia yang waktu itu menjadi kekuatan imperialis semacam Amerika dan Eropa daratan. Perkembangan paling pesat terjadi di Amerika dan berbagai metode diperkenalkan di Amerika. Perkembangan metode Taylor dan rekan-rekan membawa pada gerakan Manajemen Saintifik yang banyak berkontribusi pada sektor manufaktur maupun retail.

Perkembangan selanjutnya adalah kontribusi bidang Operations Research pada aplikasi-aplikasi industri. Operations Research pada waktu itu adalah aplikasi metode matematika dan statistika. Kontribusi OR pada waktu itu signifikan. Apabila manajemen saintifik dikembangkan pada aspek keteknikan (engineering) dan praktek-praktek dunia manufakturing dengan pendekatan intuitif untuk mencapai keberhasilan, maka OR dikembangkan untuk melihat permasalahan dengan cara abstraktif.  Perkembangan keduanya pada tahap selanjutnya memberikan kontribusi pada dunia bisnis paska Perang Dunia II pada tahun 1945.

Pada saat Perang Dunia II, OR banyak diterapkan pada permasalahan militer untuk menentukan titik optimal bagi logistik, aplikasi statistik probabilitas untuk menentukan kemungkinan serangan musuh dan masih banyak lagi. Bahkan permasalahan perang menginspirasi munculnya bidang kajian yang kemudian menjadi ilmu komputer. Kemunculan itu merupakan buah dari usaha Alan Turing untuk memecahkan kode mesin kode Enigma milik Jerman.

SIngkatnya, perkembangan antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II di Amerika Serikat dan Inggris mempengaruhi perkembangan selanjutnya dari OR.

Teknik Industri : Sebuah Kisah Menapaki Waktu (Bagian I)

Seudah menjadi takdir Tuhan bahwa segala sesuatu hal di muka bumi ini mengalami perubahan. Alam raya dimana kita tinggal dan menghirup udara, bumi dimana kita berpijak mengalami perubahan dari waktu ke waktu, bahkan fisik kitapun berubah dari waktu ke waktu. Barangkali itulah mengapa, ada istilah, “diri-ku detik ini berbeda dengan diri-ku sehari sebelumnya”, karena struktur sel berubah dari  detik ke detik, dari menit ke menit dan selanjutnya hari per hari berbeda.

Namun, bukan hanya fisik kita yang berubah, namun bagaimana kita melihat dunia luar-pun bisa berubah-ubah. Hal ini disebut sebagai persepsi kita mengenai obyek yang kita lihat. Dus, pengetahuan kita pun terhadap obyek yang kita lihat-pun berubah-ubah dari waktu ke waktu dan antar individu-pun berbeda-beda.

Begitupun dengan Teknik Industri yang berubah-ubah seiring dengan waktu. Dari saat kelahirannya dimana ia belum bisa dikatakan sebagai suatu bidang keteknikan, hingga saat ini dimana bidang Teknik Industri memiliki nama nomenklatur yang berbeda-beda. Oleh karena itu, aku akan mengajak teman-teman semua untuk melihat rentang sejarah kelahiran dan perkembangan Teknik Industri.

Harus kita akui bahwa perkembangan teknik industri tidak bisa lepas dari revolusi industri. Sebagian mengatakan bahwa revolusi industri berhutang budi pada imperialisme dan kolonialisme, namun aku tidak setuju dengan hal itu. Karena kekuatan imperialisme pada awalnya dikuasai Spanyol dan Portugis yang keliling dunia dengan dijiwai semangat “gold, glory and gospel”. Spanyol dan Portugis pada waktu itu dikuasai semangat Merkantilisme dengan penjelajahan samudra dimaksudkan untuk mendapatkan kekayaan bagi kerajaan. Imperialisme pada jaman ini berbeda dengan imperialisme paska Adam Smith yang menelorkan konsep The Wealth of Nations pada tahun 1776. Smith menghapus campur tangan pemerintah dalam perekonomian dan menawarkan kebebasan individu secara penuh dalam pengambilan keputusan ekonomi. Bagi Smith, biarlah pasar menentukan. Konsep Adam Smith pada waktu itu sangatlah mulia, karena menyandarkan pada “invisible hand” atau tangan Tuhan. Salah satu konsep Smith adalah “division of labor” yang kemudian menginspirasi perubahan-perubahan mengenai pengelolaan kerja. Salah satu yang terinspirasi adalah Charles Babage yang memberikan banyak kontribusi pada dunia manufaktur di Inggris. Ia menulis buku dengan judul “The Economy of Machinery and Manufacture“. Dengan demikian, Babbage memberikan kontribusi nyata pada pengembangan teori ekonomi dan awal terbentuknya teori manajemen. Dari kontribusi Babbage, dapat dilihat bahwa ia menunjukkan bagaimana teori dapat diaplikasikan untuk membantu praktek dan berdasarkan penemuan empiris.

Sementara itu, dalam konteks revolusi industri, Inggris telah menjadi penggerak utama dan pioner dalam revolusi industri hingga pertengahan abad 19 (sekitar 1850). Revolusi industri di Inggris kemudian menyebar ke beberapa negara di Eropa daratan dan Amerika Serikat. Namun, perkembangan yang cepat terjadi di Amerika, sementara pertumbuhan di Inggris mencapai suatu titik stabil. Revolusi industri membawa banyak inovasi di Amerika Serikat.

Kontributor penting bagi dunia industri adalah dari F.W. Taylor yang memperkenalkan scientific management atau manajemen saintifik yang mendasarkan pada “untuk menjamin kesejahteraan untuk masing-masing pegawai”. Ia memperkenalkan konsep mengenai manajemen fungsional, dimana empat tugas dari manajemen adalah :

  • Pekerjaan harus dibagi antara pekerja dan manajemen, masing-masing bertanggungjawab untuk pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya
  • Sains mengenai elemen-elemen pekerjaan dikembangkan untuk menggantikan cara lama
  • Kinerja dari pekerja sesuai dengan metode saintifik yang telah dikembangkan oleh manajemen dan mencapai kerjasama antara manajemen dan pekerja untuk memperoleh jumah terbesar produksi disertai dengan gaji pegawai yang lebih besar
  • Pekerja terbaik ditentukan untuk melakukan pekerjaan tertentu dengan pelatihan yang diperlukan, pengembangan pekerja berbasis individu.

Taylor memperkenalkan studi waktu dengan aturan :

  • Setiap elemen pekerjaan harus dianalisis
  • Pengujian terhadap elemen-elemen dilakukan dan elemen yang tidak termasuk dalam siklus kerja dibuang
  • Mengukur waktu harus akurat dan harus dilakukan dengan jam-henti
  • Klasifikasi elemen-elemen harus dilakukan dengan hati-hati sehingga mengarah pada kesesuaian untuk acuan di masa yang akan datang

Karya Taylor membawa dampak pada Gerakan Manajemen Saintifik. Dalam gerakan tersebut, Gantt bergabung dengan Taylor dan memperkenalkan Gantt Chart yang dipergunakan untuk penjadwalan pekerja. Peta Gantt muncul pertama kali pada tahun 1903, ia merupakan sebuah tools untuk mencatat tingkat produksi harian dan keseluruhan untuk masing-masing bagian. Urutan operasi berbeda dalam proses produksi ditunjukkan dalam tata letak peta dan memungkinkan penilaian yang mudah yang harus dilakukan untuk menjaga produksi berimbang beserta penyesuaian yang harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan. Informasi ini berguna pula bagi routing parts dan biaya operasi.

Perkembangan Gerakan Manajemen Saintifik (Scientific Management Movement) kemudian diperkuat dengan penelitian Frank dan Lilian Gilbreth dengan pembagian elemen kerja yang disebut sebagai Therblig. Frank dan Lilian memiliki latar belakang mirip dengan Taylor dan kajian mereka pun untuk memperkuat time and motion study atau studi gerak-waktu.

Taylor dan rekan kemudian mengembangkan manajemen saintifik ini ke dalam sektor lain selain manufaktur pada awal abad 20 (awal 1900-an). Hasil studi Thompson menyimpulkan bahwa metode saintifik bisa diterapkan di industri retail. Manajemen saintifik bisa diaplikasikan pada pengembangan sistem pembiayaan (cost), akuntansi dan penanganan sediaan yang sesuai untuk outlet retail. Perkembangan selanjutnya adalah bahwa metode-metode ini dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi kerja pada wanita. Clark and Wyatt melakukannya dengan menerapkan manajemen saintifik pada industri tekstil yang merupakan salah satu sektor manufaktur yang mempekerjakan banyak wanita.

Mengadopsi OR/MS/Teknik Industri dalam sistem industri (yang lain) ?

Sejarah mencatat, perkembangan System Thinking mulai dari “dakwah” Ludwig von Bertalanffy hingga pengaruhnya bagi bidang OR/MS/Teknik Industri hingga aplikasi systems thinking pada jenis industri lain selain manufaktur (khususnya otomotif). Sejarah juga mencatat, pergeseran Amerika Serikat sebagai guru teknik industri Jepang sehingga Jepang bisa menggeser peran Amerika sebagai dewa-nya industri otomotif. Secara makro, mau tidak mau diakui bahwa keberhasilan Amerika Serikat dalam industri otomotif disokong oleh kebijakan industri Amerika yang dikelak kemudian hari disebut sebagai Fordisme oleh pendukung ekonomi Marxian. Pun, kehebatan Jepang juga disokong oleh kebijakan pemerintah Jepang dengan berbagai skema dan inovasi Jepang yang sering disebut sebagai Reverse Engineering atau membongkar dan meniru. Hal inilah yang menjadikan teknik-teknik produksi Jepang lebih bersifat pragmatis. Teknik berproduksi Jepang semacam JIT (Just In Time), TPM (Total Productive Maintenance) yang disokong oleh TQM (Total Quality Management) merupakan upaya-upaya pragmatis yang secara teoretis dan konseptual sangat sederhana. Awalnya berupa “dakwah” oleh Deming, Juran dan Crosby, beberapa ahli SQC (Statistical Quality Control) yang pada waktu itu ditugaskan untuk membangun industri Jepang paska kekalahan negara itu dalam Perang Dunia II.

TPM, JIT dan TQM hanya beberapa hal (bingung saya mengklasifikasikan model manajemen industri Jepang) semacam Lean Management telah membawa Jepang pada pertumbuhan yang sangat pesat. Bahkan sang guru, Amerika Serikat, sempat ketakutan dengan pertumbuhan korporasi Jepang pada era 1980-an. Lean Management, TPM, JIT dan TQM serta turunan-turunannya banyak diaplikasikan di perusahaan-perusahaan Jepang di luar negeri maupun perusahaan non-Jepang. Beberapa diantaranya berhasil, sedangkan sebagian besar kurang berhasil dengan metode-metode tersebut.

Metode-metode tersebut dewasa ini diklaim sebagai bagian dari OR/MS/Teknik Industri dan kemudian diaplikasikan pada industri non-manufaktur. Lean Management banyak diterapkan pada industri proses makanan dan minuman. Sedangkan TQM banyak diterapkan pada industri jasa, bahkan beberapa tahun lalu saya mendapati bahwa TQM diaplikasikan pada dunia pendidikan menengah digabungkan dengan Action Research atau riset tindakan kelas untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan memperbaiki sistem administrasi.

Metode Jepang banyak diterapkan pada industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods) pangan dan minuman. Beberapa produsen makanan dan minuman semacam Nestle menerapkan Lean Management, Coca Cola Bottling menerapkan Total Productive Maintenance dan masih banyak lagi yang menerapkan metode-metode Jepang.

Aplikasi metode Jepang pada FMCG sangat memungkinkan karena karakteristik dari FMCG yang memproduksi dengan cara mass production volume tinggi dengan variabilitas produk rendah. Bagaimana dengan aplikasi metode Jepang pada agroindustri hulu ? Ataukah secara umum, bagaimanakah aplikasi OR/MS/Teknik Industri dalam agroindustri ? Apakah asumsi dasar perspektif system yang mekanistik dipaksakan ke dalam sistem agroindustri, ataukah diperlukan sebuah inovasi untuk membangun perspektif baru agroindustri, khususnya agroindustri Indonesia. (Lebih lanjut dapat membaca blog  Agroindustri Indonesia : Brings Agriculture into Perfection)

Memodelkan Rantai Pasok

Setelah membaca blog ini paling tidak pembaca sudah dibawa ke alam berantah mengenai sistem dan pemodelan sistem. Ya, sebuah model sistem ditentukan oleh perspektif sang pemodel memahami apa yang ada dalam realitas dan kemudian “memotretkannya” dalam pemahaman dia mengenai sebuah sistem. Betapa rumitnya, apabila realiats yang ia lihat adalah realitas sosial, bukannya realitas material yang selama ini dipahami oleh orang-orang aliran positivistik.

Namun, sebenarnya kecanggihan sebuah model, bukan terletak pada kerumitannya namun sampai sejauh mana bisa meng-capture kerumitan yang ada dalam realitas untuk kemudian memodelkannya. Realitas bisnis dan industri misalnya, bisa dilihat dari berbagai perspektif, mulai dari perspektif orang pemasaran, sumber daya, operasional maupun kaitan-kaitan fungsional dalam perusahaan. Apabila dilihat dari perspektif orang luar-dalam, maka perspektif lebih pada bagaimana seorang pemodel memiliki kaitan dengan sistem yang ia amati, apakah seorang analis dari luar perusahaan atau seorang pengambil kebijakan dari dalam perusahaan.

Konsepsi rantai pasok bukanlah sesuatu yang riil, namun proses perencanaan-pengorganisasian-aktualisasi-pengendalian yang menjadikan suatu konsepsi rantai pasok dapat diimplementasikan. Model sistem rantai pasok biasanya dibuat oleh analis diluar perusahaan. Model sistem rantai pasok dewasa ini bukan sekedar sebuah sistem distribusi, namun suatu sistem koordinasi antar elemen-elemen dalam suatu sistem rantai pasok. Ia bukan hanya memodelkan aliran bahan, namun juga memodelkan hubungan dengan pelaku lain.

So, where do we stand ? Dimanakah posisi kita ketika mendefinisikan sistem rantai pasok ?